“Cerpen ini merupakan satu satu nya cerpen yang selesai aku rintis,, Cerita ini di ambil dari pengalaman ku ketika duduk di bangku SMP,,”
“Pretty, ntar malam kita membuat pr Sejarah bersama
yuk?”kataku kepada pretty sahabat karibku dari kecil. “nggak malas”(pretty).
“Benar nih malas, yaudah kalau nggak mau ntar pulang sekolah kita pulang
sendiri-sendiri aja ya!”kataku mengancam pretty. “Eh jangan gitu dong” kata
pretty mencabut kata-katanya tadi.
Ketika aku dan pretty sedang asyik-asyiknya
berbincang, bel pulang berbunyi, dan kami bergegas pulang. Seperti biasa, aku
dan pretty pulang lewat jalan kereta api. Oleh sebab itu kami kami selalu
mendapatkan pengalaman yang menarik setiap perjalanan pulang. Selalu ada canda
& tawa yang mewarnai perjalanan kami.
Namun stasiun kereta api memisahkan kami menuju
rumah masing-masing. “gimana nih zinta, kita dah harus pisah jalan nih….! Kata
pretty sedih ketika harus mengakhiri cerita panjang yang mengasyikkan tadi.
“yaudah deh pretty, kan ntar malam kita belajar bersama, jadi cerita tadi kan
bisa di sambung lagi”. Oke deh zinta……
Kerlipan bintang dan sinar rebulan seakan
menyambut kedatangan pretty kerumahku. Saat itu pula kami bergegas mengeluarkan
buku pelajaran sejarah dan mulai membuat PR. Ketika belajar kami tidak hanya
fokus terhadap PR. Selalu ada canda yang mengisi waktu belajar kami, namun PR
kami tetap selesai dan siap untuk di kumpul besok. Setelah itu, kami berencana
untuk memberi kejutan kepada teman kami kharisma pada ultahnya 2 hari lagi.
Banyak ide yang terkumpul saat itu. Salah satunya yaitu mengumpulkan batu-batu
yang agak besar dan mencari bunga untuk di masukkan kedalam tas kharisma(untuk
mengerjainya).
Karena hari sudah menunjukkan jam 09.00 malam, pretty pun pulang dan tidak lupa bepamitan kepada kedua orang tuaku. Orang tuaku sangat menyayangi pretty seperti anaknya sendiri, begitu pula dengan orang tua pretty kepadaku. Sehingga kedekatan kami itu sangat erat dan susah untuk di pisahkan.
Sinar rembulan telah berganti dengan sinar mentari.
Aku dan pretty terbangun dari tidur yang sangat lelap. Di sekolah kita bertemu
dan langsung berpangkuan menuju kelas. Keakraban kami sebagai sahabat sudah
tidak di ragukan lagi, karena memang teman-teman kita yang lain bilang gitu
seh….hehehehe. di tengah perjalanan menuju kelas, kami tidak lupa membahas
rencana kami semalam. “Gimana pretty?? Ide kita semalam udah oke dan bisa di lanjutkan??”kataku
memulai pembicaraan. “Waahh..oke bgt deh pokoknya, ntar pulang sekolah langsung
aja kita ajak teman-teman lain untuk kerjasama mencari bebatuan dan bunga
itu”kata pretty menambah ide…… TOP BGT dah kalu gitu……siiiiiiiiiiiiiiip…………….
Waktu berganti waktu, akhirnya bel pulang sekolah
pun berdering. “Nah gimana teman-teman, kayaknya kharisma udah mau pulang neh,,
jadi kita langsung aja yuk ngelaksanain ide itu.” Bisikku dan pretty kepada
teman-teman. Oke deh, let’s go………
Hari ini serasa menyenangkan sekali, tidak hanya
aku dan pretty,tetapi teman-teman yang lain juga. Angin sepoi-sepoi dan udara
yang bersahabat menyambut kedatangan kami mencari bebatuan dan bunga. Saat itu
menunjukkan jam 2 siang. Tak terasa jam 3 kita sudah dapatkan semuanya. Jadi
kami langsung deh pulang menuju rumah masing-masing. “Dah…………teman-teman……….”
Suara itu menghiasi tempat kita berada. Sekarang tinggal aku dan pretty.
Seperti biasa setiba di stasiun kereta api, kami pun berpisah. Senyuman yang
lebar dan mengesankan mengakhiri perjalanan kita.
Sesampai di rumah, makanan telah menungguku. Aku
bergegas kekamar untuk ganti pakaian, setelah itu langsung ke ruang makan. “Wah,
lezat banget makanan hari ini, jadi ngantuk aku karena kekenyangan” pikirku di
dalam hati. Aku pun bergegas ke kamar, dan langsung tidur deh.
“Zinta……..huhuhuhu…….zinta……….kamu jangan pergi
nak……” suara tangisan mama terdengar
begitu lembut di telinga ku. Mama datang menghampiriku, dan memelukku. Aku jadi
terheran-heran, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Ku coba mengusap air
mata mama, tapi mama tidak memberi respon kepadaku, aku tanya kenapa pun, mama
tetap menangis, dan memeluk ragaku, aku baru sadar, ternyata aku telah tiada.
Itu sebabnya mama tidak merespon lagi tingkahku. Aku benar-benar tidak
percaya…. Aku menangis sekeras-keras nya. Aku belum ingin berpisah dengan
keluargaku dan juga sahabat serta teman-temanku. Aku benar- benar tidak percaya
dengan semua ini……….. Ya Allah….apa yang
terjadi……..
Kakak……..bangun kak……..bangun……… tiba-tiba suara
adikku yang begitu lengking menusuk di telinggaku. Aku pun tersadar dari
tidurku yang lelap. Oh, ternyata tadi aku cuma mimpi, tapi ku heran, kok mama
dan adikku menangis dan memelukku, “apa lagi yang terjadi?? Aku bukan mimpi kan
ma??” ungkapku pada mama. “Tidak nak, kamu tidak mimpi, mama menemuimu karena
mama mau mengasih kabar buruk kepada mu, mama benar-benar susah untuk
mengatakannya kepada mu nak…” ungkap mama sambil berderai air mata. “Memang nya
apa yang terjadi ma?” aku semakin penasaran dan cemas. “Nak, sahabat mu pretty
sudah tiada. Dia telah pergi meninggalkan kita semua, meninggalkan semua
kenangan yang telah kita lalui bersama.” Air mata tak terbendung lagi, tanpa
berkata- kata, aku langsung bergegas ke rumah pretty untuk membuktikan semuanya.
Aku masih belum percaya, aku masih serasa mimpi yang menghantuiku tadi. Di tengah
perjalanan, yang aku ingat adalah mimpiku, dan keadaan pretty sekarang, kenapa
semua nya begitu cepat terjadi.
Sesampai di rumah pretty, baru selangkah masuk aku
sudah di peluk oleh ibunya pretty, dia begitu sedih di pangkuanku, dia seperti
mencegahku agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihan ini. Perlahan ku usap
mataku, ku pandang wajah polos pretty yang terbaring di tengah rumah dengan luka yang penuh di
wajahnya. Pretty……bisikku di telinganya, aku berusaha menahan kesedihan ini,
walau di hati sebenarnya ingin sekali mencurahkan air mata dan isi hati ini,
betapa sedih nya diriku saat itu. tapi aku tidak ingin menambah kesedihan
keluarga pretty.
Ibu pretty mencerikan semua yang terjadi, tenyata
sore itu pretty duduk-duduk dekat kolam rumahnya, dan tiba-tiba hujan, sehingga
membuat pretty terjatuh dan pingsan. Selang beberapa saat kemudian pretty sudah
tiada. Ku usap air mata tulus dari pipi seorang ibu tercinta pretty.
Hati kecilku berkata, bahwa aku tidak boleh
menyia-nyiakan waktu ini hanya untuk tangisan. Ku ambil al-quran dan membacakannya
di hadapan pretty, di sela-sela pengajian, ku tak bisa menahan air mata ini,
satu persatu air mata terjatuh membasahi pipiku. Selesai membaca al-qur’an, tak
lupa ku memeluk pretty, yang berarti pelukkan terakhir dariku. Aku juga terus
berdoa, agar kamu mendapat kebahagiaan yang lebih di akhirat sana. “Ku tahu dan
ku yakin, kamu pasti melihat dan membelaiku saat ini, ku harap kamu bisa
tersenyum disana sobatku, disini ku akan selalu merindukanmu, dan ingat, tak
ada yang bisa mengakhiri persahabatan kita ini, walau maut memisahkan” Bisikku ke
telinga pretty.
Keesokan harinya di sekolah. Seharusnya saat ini
aku dan pretty sudah memulai rencana untuk merayakan ultahnya kharisma, tapi
apalah daya, takdir ilahi tidak mengizinkan kita untuk semua itu, kebahagiaan
di ultah kharisma berganti dengan kesedihan, apalagi ketika semuanya
menceritakan saat-saat bahagia mencari bunga dan kejutan untuk kharisma bersama
pretty. Itu kenangan terakhir dan terindah dari pretty bersama aku dan tema-teman. Ternyata senyuman
terakhir pretty di stasiun kereta api kemarin adalah senyuman terakhirnya
untukku.:(
By: Aiza Priwahyuni Candra
ondeh mak...
BalasHapuscerpen yang begitu mengharukan,,,
manangih wak mambaconyooo...
good....
:D
Hmm....
BalasHapusmkcii Heruu....^^