Sabtu, 04 Februari 2012

Fakta di balik mimpi


“Cerpen ini merupakan satu satu nya cerpen yang selesai aku rintis,, Cerita ini di ambil dari pengalaman ku ketika duduk di bangku SMP,,”

“Pretty, ntar malam kita membuat pr Sejarah bersama yuk?”kataku kepada pretty sahabat karibku dari kecil. “nggak malas”(pretty). “Benar nih malas, yaudah kalau nggak mau ntar pulang sekolah kita pulang sendiri-sendiri aja ya!”kataku mengancam pretty. “Eh jangan gitu dong” kata pretty mencabut kata-katanya tadi.

Ketika aku dan pretty sedang asyik-asyiknya berbincang, bel pulang berbunyi, dan kami bergegas pulang. Seperti biasa, aku dan pretty pulang lewat jalan kereta api. Oleh sebab itu kami kami selalu mendapatkan pengalaman yang menarik setiap perjalanan pulang. Selalu ada canda & tawa yang mewarnai perjalanan kami.

Namun stasiun kereta api memisahkan kami menuju rumah masing-masing. “gimana nih zinta, kita dah harus pisah jalan nih….! Kata pretty sedih ketika harus mengakhiri cerita panjang yang mengasyikkan tadi. “yaudah deh pretty, kan ntar malam kita belajar bersama, jadi cerita tadi kan bisa di sambung lagi”. Oke deh zinta……

Kerlipan bintang dan sinar rebulan seakan menyambut kedatangan pretty kerumahku. Saat itu pula kami bergegas mengeluarkan buku pelajaran sejarah dan mulai membuat PR. Ketika belajar kami tidak hanya fokus terhadap PR. Selalu ada canda yang mengisi waktu belajar kami, namun PR kami tetap selesai dan siap untuk di kumpul besok. Setelah itu, kami berencana untuk memberi kejutan kepada teman kami kharisma pada ultahnya 2 hari lagi. Banyak ide yang terkumpul saat itu. Salah satunya yaitu mengumpulkan batu-batu yang agak besar dan mencari bunga untuk di masukkan kedalam tas kharisma(untuk mengerjainya).

Karena hari sudah menunjukkan jam 09.00 malam, pretty pun pulang dan tidak lupa bepamitan kepada kedua orang tuaku. Orang tuaku sangat menyayangi pretty seperti anaknya sendiri, begitu pula dengan orang tua pretty kepadaku. Sehingga kedekatan kami itu sangat erat dan susah untuk di pisahkan.

Sinar rembulan telah berganti dengan sinar mentari. Aku dan pretty terbangun dari tidur yang sangat lelap. Di sekolah kita bertemu dan langsung berpangkuan menuju kelas. Keakraban kami sebagai sahabat sudah tidak di ragukan lagi, karena memang teman-teman kita yang lain bilang gitu seh….hehehehe. di tengah perjalanan menuju kelas, kami tidak lupa membahas rencana kami semalam. “Gimana pretty?? Ide kita semalam udah oke dan bisa di lanjutkan??”kataku memulai pembicaraan. “Waahh..oke bgt deh pokoknya, ntar pulang sekolah langsung aja kita ajak teman-teman lain untuk kerjasama mencari bebatuan dan bunga itu”kata pretty menambah ide…… TOP BGT dah kalu gitu……siiiiiiiiiiiiiiip…………….

Waktu berganti waktu, akhirnya bel pulang sekolah pun berdering. “Nah gimana teman-teman, kayaknya kharisma udah mau pulang neh,, jadi kita langsung aja yuk ngelaksanain ide itu.” Bisikku dan pretty kepada teman-teman. Oke deh, let’s go………

Hari ini serasa menyenangkan sekali, tidak hanya aku dan pretty,tetapi teman-teman yang lain juga. Angin sepoi-sepoi dan udara yang bersahabat menyambut kedatangan kami mencari bebatuan dan bunga. Saat itu menunjukkan jam 2 siang. Tak terasa jam 3 kita sudah dapatkan semuanya. Jadi kami langsung deh pulang menuju rumah masing-masing. “Dah…………teman-teman……….” Suara itu menghiasi tempat kita berada. Sekarang tinggal aku dan pretty. Seperti biasa setiba di stasiun kereta api, kami pun berpisah. Senyuman yang lebar dan mengesankan mengakhiri perjalanan kita.

Sesampai di rumah, makanan telah menungguku. Aku bergegas kekamar untuk ganti pakaian, setelah itu langsung ke ruang makan. “Wah, lezat banget makanan hari ini, jadi ngantuk aku karena kekenyangan” pikirku di dalam hati. Aku pun bergegas ke kamar, dan langsung tidur deh.

“Zinta……..huhuhuhu…….zinta……….kamu jangan pergi nak……”  suara tangisan mama terdengar begitu lembut di telinga ku. Mama datang menghampiriku, dan memelukku. Aku jadi terheran-heran, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Ku coba mengusap air mata mama, tapi mama tidak memberi respon kepadaku, aku tanya kenapa pun, mama tetap menangis, dan memeluk ragaku, aku baru sadar, ternyata aku telah tiada. Itu sebabnya mama tidak merespon lagi tingkahku. Aku benar-benar tidak percaya…. Aku menangis sekeras-keras nya. Aku belum ingin berpisah dengan keluargaku dan juga sahabat serta teman-temanku. Aku benar- benar tidak percaya dengan semua ini………..  Ya Allah….apa yang terjadi……..

Kakak……..bangun kak……..bangun……… tiba-tiba suara adikku yang begitu lengking menusuk di telinggaku. Aku pun tersadar dari tidurku yang lelap. Oh, ternyata tadi aku cuma mimpi, tapi ku heran, kok mama dan adikku menangis dan memelukku, “apa lagi yang terjadi?? Aku bukan mimpi kan ma??” ungkapku pada mama. “Tidak nak, kamu tidak mimpi, mama menemuimu karena mama mau mengasih kabar buruk kepada mu, mama benar-benar susah untuk mengatakannya kepada mu nak…” ungkap mama sambil berderai air mata. “Memang nya apa yang terjadi ma?” aku semakin penasaran dan cemas. “Nak, sahabat mu pretty sudah tiada. Dia telah pergi meninggalkan kita semua, meninggalkan semua kenangan yang telah kita lalui bersama.” Air mata tak terbendung lagi, tanpa berkata- kata, aku langsung bergegas ke rumah pretty untuk membuktikan semuanya. Aku masih belum percaya, aku masih serasa mimpi yang menghantuiku tadi. Di tengah perjalanan, yang aku ingat adalah mimpiku, dan keadaan pretty sekarang, kenapa semua nya begitu cepat terjadi.

Sesampai di rumah pretty, baru selangkah masuk aku sudah di peluk oleh ibunya pretty, dia begitu sedih di pangkuanku, dia seperti mencegahku agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihan ini. Perlahan ku usap mataku, ku pandang wajah polos pretty yang terbaring  di tengah rumah dengan luka yang penuh di wajahnya. Pretty……bisikku di telinganya, aku berusaha menahan kesedihan ini, walau di hati sebenarnya ingin sekali mencurahkan air mata dan isi hati ini, betapa sedih nya diriku saat itu. tapi aku tidak ingin menambah kesedihan keluarga pretty.

Ibu pretty mencerikan semua yang terjadi, tenyata sore itu pretty duduk-duduk dekat kolam rumahnya, dan tiba-tiba hujan, sehingga membuat pretty terjatuh dan pingsan. Selang beberapa saat kemudian pretty sudah tiada. Ku usap air mata tulus dari pipi seorang ibu tercinta pretty.

Hati kecilku berkata, bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu ini hanya untuk tangisan. Ku ambil al-quran dan membacakannya di hadapan pretty, di sela-sela pengajian, ku tak bisa menahan air mata ini, satu persatu air mata terjatuh membasahi pipiku. Selesai membaca al-qur’an, tak lupa ku memeluk pretty, yang berarti pelukkan terakhir dariku. Aku juga terus berdoa, agar kamu mendapat kebahagiaan yang lebih di akhirat sana. “Ku tahu dan ku yakin, kamu pasti melihat dan membelaiku saat ini, ku harap kamu bisa tersenyum disana sobatku, disini ku akan selalu merindukanmu, dan ingat, tak ada yang bisa mengakhiri persahabatan kita ini, walau maut memisahkan” Bisikku ke telinga pretty.

Keesokan harinya di sekolah. Seharusnya saat ini aku dan pretty sudah memulai rencana untuk merayakan ultahnya kharisma, tapi apalah daya, takdir ilahi tidak mengizinkan kita untuk semua itu, kebahagiaan di ultah kharisma berganti dengan kesedihan, apalagi ketika semuanya menceritakan saat-saat bahagia mencari bunga dan kejutan untuk kharisma bersama pretty. Itu kenangan terakhir dan terindah dari pretty  bersama aku dan tema-teman. Ternyata senyuman terakhir pretty di stasiun kereta api kemarin adalah senyuman terakhirnya untukku.:(
                                                                     By: Aiza Priwahyuni Candra
                                                                       


2 komentar:

  1. ondeh mak...
    cerpen yang begitu mengharukan,,,
    manangih wak mambaconyooo...
    good....
    :D

    BalasHapus